Sunday, September 23, 2007

TREND LIGHTING

SHOP LIGHTING DAN SHOP AMBIENCE

Suatu “pengalaman” belanja dapat hadir ketika pengunjung merasa menemukan ambience dari ruang dan produk yang dilihatnya. Lewat desain tata cahaya terkonsep—tak sekedar menerangi ruang dan barang—pengalaman itu tercipta.

Pada masa 1980-an dan 1990-an, desain lighting utamanya terfokus pada pencahayaan merchandise (produk yang ditawarkan). Keberadaan produk di suatu toko ditampilkan lewat penerapan high level lighting tepat menyinari produk yang dipajang. Penerapannya pada direct lighting dengan spotlight terhadap manekin misalnya. Intensitas cahaya lampu spot yang kontras daripada ruang dan obyek sekelilingnya yang dibuat redup, menciptakan figur manekin sebagai objek.


Seiring dengan waktu dan perubahan gaya berbelanja, kini pencahayaan merchandise dituntut berkolaborasi dengan pencahayaan ruang (space illumination). Tidak hanya sekedar keseimbangan produk dan ruang, pencahayaan ditujukan untuk menciptakan citra ruang. Space illumination tematik untuk memancarkan ambience tertentu pun didesain agar pencahayaan mengejutkan, menggoda, menstimulasi emosi.

Pencahayaan (general lighting) toko seharusnya hadir dalam cahaya tinggi yang kuat. Citra visual diperoleh dari tata cahaya pada elemen arsitektur—misalnya, partisi, drop off, dan back drop—dengan color rendering yang tepat. Elemen-elemen itu sendiri dapat meningkatkan bidang – bidang kontras dalam ruang, sehingga ruang tidak tampil “kosong” dan datar. Permainan maju-mundur dinding, turun naik ceiling, profil garis, tekstur, warna dan bayangannya semakin nyata ditangkap mata bila dipadukan dengan pencahayaan dan efek yang tepat. Satu lagi, pencahyaan pada satu elemen, besar pengaruhnya pada kesan ruang keseluruhan. Pada dinding akan membuat ruang terasa luas, serta akan membuat ceiling lebih tinggi.

Perkembangan desain toko dengan permainan elemen (estetis) arsitektur, memudahkan kreatifitas tata letak merchandise. Rak pajangan bisa disatukan dengan partisi/ dinding. Di sela-sela ruang yang terbentuk diantarakeduanya, lampu dapat diletakkan, dengan armature yang tak terekspos. Sehingga tampak dari luar hanya seberkas cahaya, maka bidang elemen dan ruang terlihat bersih keseluruhan.

Untuk menciptakan ambience sekaligus tetap berpegang pada fungsi penerangan umum dan merchandise, dibutuhkan penerapan spesifikasi lebih dari satu. Bukan seperti konsep spotlight untuk aksen dan down light untuk umum, tetapi suatu sistem yang mencakup berbagai fungsi.

Hal serupa dibicarakan Benno Salinas F, Lighting Desainer dalam sebuah seminar yang digelar INIAS, “The Silent Sales Person”, beberapa waktu lalu. Dinamisasi/ fleksibilitas sistem lighting yang memprtimbangkan perubahan warna display dan warna produk seiring dengan waktu dan tren, terutama menyediakan konsep alternatif pencahayaan yang cukup banyak dengan dana maksimal.

Agar lebih dinamis dan fleksibel bisa dengan menggunakan multitrack (tidak dengan sirkuit tunggal), dengan memilih spotlight—pada sebuah track atau titik posisi yang pasti—yang arahnya fleksibel untuk dirubah. Di samping itu pemilihan fitting yang dapat dipakai oleh lampu-lampu yang berbeda agar tersedia kebutuhan rendering warna yang berbeda pula. Sebagai catatan, tingkat color rendering suatu lampu amat besar pengaruhnya terhadap kualitas visual ambience suatu obyek.

Benno menjelaskan, sistem kontrol pencahyaan pada satu area perbelanjaan sebaiknya menyediakan 2 alternatif untuk siang dan malam dan mampu menciptakan ambience yang dapat berubah dengan distribusi dan warna cahaya yang berbeda beda.

Pencahayaan khusus

Shop lighting yang diterangkan oleh Satria D Mochtan, Lighting Desainer dari Lumina Arsi Dinamika. Di depan peserta INIAS Hospitality Seminar beberap waktu lalu, dengan makalah The Dynamic Design in hospitality Industry-Lighting, Satria menjelaskan beberapa teknik pencahayaan khusus untuk menciptakan pengalaman visual dan psikologis pengunjung.

Teknik highlighting dan silhouetting yang umum digunakan pada merchandise. Highlighting dapat membuat kuat cahaya obyek 5 kali lebih terang dari latar belakangnya. Silhouetting menekankan fitur khusus obyek juga menghilangkan glare. Pada manekin, misalnya, satu spotlight yang dipasang agak rendah mendekat pada model menciptakan cahaya kontras sangat kuat, yakni sebagian sisi begitu terang dan sebagian lagi berbayang gelap. Sisi high brightness biasanya ditujukan pada sebagian wajah dan bahu model, agar tercipta karakter dominan. Permainan kontras area window yang atraktif sebagai zona, letak manekin pada umumnya.

Teknik backlighting, menaruh sumber cahaya di belakang obyek untuk performa berkas cahaya impresif dari depan. Teknik ini umumnya digunakan untuk produk-produk kristal. Akan berbeda bila cahaya diletakkan dari arah lain, misalnya direct lighting dengan lampu—halogen spots atau fluorescents—dari depan. Arah ini lebih menghasilkan efek refleksi dan ekspos mengkilap. Kilap (sparkle) lebih keluar dengan memakai halogen spots daripada fluorescents. Dengan halogen, bayangan (shadow play) pada latarbelakang pun terlihat lebih elegan.

Sparkle juga dipakai pada teknik menciptakan kontras terang pada suatu tempat gelap. Pada area staircase/ tangga misalnya. Tangga merupakan elemen arsitektur yang khas, terlebih dengan konsep mobilitas gerak dari perubahan tinggi dan cepatnya. Dengan permainan lampu pada bagian tangga seperti anak tangga, pengalaman itu lebih atraktif.

Selain itu ada aplikasi structural lighting, down lighting, up lighting, dan wall washing yang bertujuan menciptakan citra elemen ruang, bahkan menguatkan tampilan elemen sebagai aksen ruang. Structural lighting menerapkan indirect lighting pada elemen struktural ekspos, seperti pada rangkaian balok baja di suatu bangunan hi-tech. Cara ini menguatkan fungsi komponen struktur sekaligus elemen arsitektur artistik.

Down lighting adalah teknik pencahayaan 180º dari langit-langit yang baik untuk penerangan area sirkulasi. Konsep up lighting adalah pencahayaan yang mengarah ke bidang atas, untuk menonjolkan ceiling atau menguatkan kesan ketinggian. Untuk cahaya pada elemen dinding bisa dengan teknik wall washing. Kegunaannya menonjolkan obyek di dinding, memperjelas karakter fisik dinding sendiri (wujud, tekstur, warna dan semacamnya), dan menciptakan kesan “ruang”.

Enticing light

Selain konsep yang berbasis pada upaya menyajikan “pengalaman” melalui ambience ruang (enticing light), shop lighting diprediksi makin dalam merespons kebutuhan individual (Sjef Cornelissen, International Lighting Review 002: Shop) Seperti munculnya perhatian terhadap eksistensi figur individu dan interaksi antarmereka (humanising light), sampai peran makin dominan atas seluruh proses dan aktifitas dalam ruang retail (light the process)

Di masa depan, kenyamanan, mood dan interaksi pengunjung (khususnya di ruang retail) besar pengaruhnya terhadap tren pencahayaan yang makin dinamis, mengkombinasikan beragam spesifikasi terintegrasi, fleksibel dengan sistem kontrol yang mudah. Bahkan menciptakan keberanian konsep light as art seperti gaya pencahayaan orkestra dan semacamnya. Demikian menurut Sjef Cornelissen.

Artikel berasal dari berbagai sumber


No comments: