Monday, October 1, 2007

TREND LIGHTING

DESAIN RITEL TERKINI

Retailer saat ini diharuskan bekerja lebih keras untuk menarik perhatian konsumen. Karena sekarang bukan lagi sekedar mengelola kemampuan membeli, tetapi bagaimana membangun keinginan untuk membeli.

Barangkali itulah kesimpulan paling umum yang menggarisbawahi perkembangan desain retail masa kini, bila dilihat dari perubahan cara dan gaya hidup masyarakat dan perkembangan produk-produk baru yang muncul dipasaran. Termasuk didalamnya pertimbangan desain di sini, adalah cara pandang masyarakat modern tentang makna dari berbelanja itu sendiri. Bila dilihat pada hari-hari ini, muncul semacam tuntutan ruang belanja yang menghibur dan memberi pengalaman emosional tertentu.

Desainer interior Lea A Aziz, mempresentasikan “The New World of Retail Design” dalam Retail Seminar Series oleh INIAS di Jakarta beberapa waktu lalu. Dia mengatakan, hal yag paling sulit dalam desain retail adalah menarik minat konseumen baru, sambil tetap mempertahankan dan memperhatikan konsumen lama. Oleh karena itu, satu proses yang krusial dalam tahap pradesain adalah identifikasi pasar, siapa dan bagaimana konsumen itu sebenarnya. Tujuannya agar desain ritel tetap up to date, tepat, sesuai target konsumen.


Pengetahuan desainer tentang branding, serta strategi marketing yang diprogramkan menjadi suatu keharusan yang lain. Harapannya, imej produk terimplementasikan secara efektif melalui desain ruang retail yang dibuat. Atau sebaliknya, estetika desain ruang ritel tetap harus serasi dengan nilai dan karakter barang / jasa yang dijual di dalamnya.

Lea mengemukakan pula pentingnya barang / jasa sebagai fokus visual dalam suatu ruang ritel. Tata interior toko sebagai lingkungan, tidak boleh mendominasi, melainkan secara keseluruhan tampil sebagai alat komunikasi informatif yang melengkapi dan mendukung promosi dan penjualan produk barang / jasa yang dipajang. Di sini, pentingnya menampilkan shop environment yang juga mendidik dan menghibur. Apalagi, persepsi masyarakat berbelanja saat ini lebih mengarah pada entertainment / hiburan.

Elemen desain ritel

Terdapat lima elemen di dalam desain ruang retail yang penting untuk dilakukan agar lingkungan belanja menjadi berkesan. Kelimanya adalah display, signage, graphics, merchandising, dan point of sale. Elemen pertama adalah display. Sebuah display diharapkan dapat memicu resapan emosional tertentu dalam sekilas pandangan mata. Display produk yang tertangkap langsung dari arah luar, dapat membuat kesan pertama yang memancing orang untuk masuk ke toko, merasa nyaman di dalamnya, dan membeli produk.

Oleh sebab itu, display sebaiknya menghindari penampilan yang berlebihan, melainkan terfokus kepada item-item produk seperti item best seller yang diyakini paling memancing keinginan untuk membeli. Sebagai alat informasi, maka konsep display sebaiknya mengikutsertakan program promosi yang sedang dijalani. Dan, tampilkan pula elemen display yang bergerak atau bersuara sebagai bagian atraksi komunikasi fungsional yang boleh jadi berkesan menghibur.

Elemen kedua signage. Elemen ini berhubungan dengan tampilan gambar/ logo, warna, tulisan, dan pencahayaan. Kita biasa melihatnya sebagai media di bagian luar toko yang menampilkan nama perusahaan atau brand produk yang dijual di dalam toko tersebut. Untuk brand besar yang telah memiliki nama, terkadang cukup dengan penonjolan signage brand-nya yang identik di bagian luar, orang yang melihat pun akan terpancing untuk masuk ke dalam.

Memperhatikan unsur grafis sebagai elemen ketiga bermanfaat agar suatu brand lebih mudah dan gampang diingat orang. Oleh karena itu, pihak desainer harus bekerjasama dengan pihak advertising atau desain grafis untuk menciptakan sebuah tampilan grafis di suatu toko sebagai kekuatan visual yang memikat tetapi juga tetap informatif terhadap produk. Menonjolkan produk-produk utama sebagai materi grafis diyakini akan semakin membuat daya tarik produk sebagai fokus setiap shop environment.

Untuk menampilkan display yang langsung berkesan (first impression) dari sisi luar, menurut Lighting Desainer, Benno Salinas F terutama perhatikan desain shop window (jendela toko) sebagai perantara visualnya. Beberapa ritel menampilkan jendela yang memperlihatkan beberapa produk sebagai bagian dari isi yang ingin dikedepankan. Sebagian lagi malah menampilkan keseluruhan isi merchandise yang didisplay. Namun jendela juga semestinya menampilkan tema-tema tertentu, ide atau gaya tertentu dari ritel dan brand yang disandangnya. Untuk itu, bisa lewat desain jendela yang memperlihatkan paduan signage dengan olahan grafis, dan tata pencahayaan yang membangkitkan impresi visual tertentu. Tanpa menenggelamkan produk yang ada dibalik jendela, pastinya.

Elemen keempat pada desain ruang retail adalah merchandising, pengelolaan barang dagangan. Keputusan retailer dalam menjual barang tertentu, unik, khusus, atau bahkan barang umum di dalam tokonya akan sangat berpengaruh pada konsep desain toko. Elemen Terakhir, pentingnya keberadaan sistem point of sale (POS) sebagai satu sistem perangkat teknologi yang merespons tuntutan praktis dari setiap transaksi. Elemen yang berada di area kasir ini terdiri dari layar monitor, keyboard, scanner, cash drawer, tempat menggesekkan kartu kredit dan debet, dan lain-lain.

Belanja sebagai experience

Lea A Aziz mengatakan, bentuk arsitektur retail shop juga menunjukkan status sosial, budaya dan perubahan dari ekonomi daerah / wilayah setempat. Dulu, bentuk ritel berupa toko-toko milik suatu keluarga yang berdiri sendiri. Kini berubah menjadi toko-toko di dalam satu arcade atau suatu mall di mana arcade, promenade, gallery, sebagai suatu area terlindung dengan suasana menyenangkan. Konsep ini menjadi gambaran semakin besarnya tuntutan kebutuhan ruang wisata belanja. .

Marc Gobe, seorang penulis buku pemasaran dalam salah satu buku terlarisnya, Emotional Branding mengungkapkan munculnya kecenderungan perdagangan eceran (retail) yang dapat menjadi sebuah kekuatan promosi. Mengalahkan kekuatan dari media periklanan itu sendiri. Retailing has become advertising. Hal ini didapatkan melalui kekuatan ritel-ritel yang tak semata - mata karena menawarkan produk dengan harga yang murah. Tetapi juga lebih karena kecerdikan dari retailer dalam menciptakan kesan yang nyaman kepada konsumen saat melihat produk dalam sebuah pusat perbelanjaan.

Lingkungan, kualitas produk, pelayanan, seleksi dan pengalaman yang menyenangkan saat berbelanja adalah satu konsep utuh yang dibutuhkan untuk merebut hati konsumen pada sat ini. Hal itu dapat dilakukan, antara lain, dengan menciptakan kejutan-kejutan baru lewat desain ritel dalam periode waktu tertentu, agar supaya mereka senantiasa mendapat nilai plus saat berkunjung. Beberapa brand internasional melakukan perubahan tata interior pada toko/ gerainya setiap 2-3 bulan sekali. Minimal merubah lay out dan dekorasi media display seperti showcase setiap periode itu.

Benno menjelaskan inovasi perubahan suasana atau ambience dalam ruang toko bahkan terasa lebih maksimal menghadirkan pengalaman ruang yang baru, melalui perubahan kesan kontras (cahaya) dan pilihan warna-warna tertentu pada material showcase atau elemen bangunan. Cahaya dan warna memegang peranan penting dilihat dari pengaruhnya terhadap persepsi psikologis individu atas suatu tempat ke tempat lain dan suatu ke waktu yang lain.

Kesuksesan penjualan suasana pada ritel menjadi kunci majunya perdagangan ritel di pusat perbelanjaan di banyak negara maju. Bagaimana dengan Indonesia?


Artikel diambil dari berbagai sumber.


No comments: